cerpen, cerita pendek

cerpen cerpen yang tercecer di “halaman” sebelah

1. cerpen,Aku Mencintaimu
Aku Mencintaimu
Oleh Sy

Malam menyebar resah dalam hujan dan angin yang terus mengganas menyerbu, tapi hatiku tetap terbakar. Badanku menggigil. Entah karena dingin atau adrenalin yang mengalir bersama racun dari teman setiaku yang telah kuhabiskan berbatang-batang. Aku tidak tahu apakah sekarang ini hatiku marah, kecewa, dendam, sakit atau memang semua itu bercampur mengotori tubuh dan jiwaku.

“Kau menghianati kepercayaanku, Igo! Aku pikir kau akan selalu menjadi sahabatku. Tapi ternyata kamu sama saja. Penuh kebohongan. Selama ini kamu menipu aku… Aku muak!”

Kata-kata Angel sore tadi terus menjejali telingaku. Perempuan itu, kenapa dia harus terus menghantui aku?

“…kamu sengaja membuat aku percaya dan bergantung padamu, membuat aku tidak bisa lepas dari kamu. Tapi aku bisa, Igo! Aku bisa menjadi diriku…”

Memang aku masuk dalam kehidupan Angel pada saat dia labil. Tapi itu bukan awal cintaku. Aku mencintai Angel sejak pertama mata malaikat itu menyandera pandanganku, jauh sebelum itu. Jauh sebelum dia semakin mempengaruhi hidupku dengan kecantikan hati dan pikirannya. Sebelum dia mendatangkan mimpi-mimpi indah yang mulai menyiksa otakku.

Aku selalu mencoba untuk membangun kembali kepercayaan dalam dirinya. Pada dirinya sendiri, juga padaku. Aku bukan ingin Angel bergantung padaku……………………………………………

2. Cerpen,arti hadirmu
Cerpen “Arti Hadirmu”
diaz
Arti Hadirmu
Ini hari pertama Indah belajar di sekolah musik. Dia mengambil bidang olah
vokal, di salah satu sekolah musik di Bandung. Musik adalah pilihan Indah untuk
melanjutkan pendidikan setelah dia menamatkan SMU-nya, di Jakarta. Sedangkan
teman-temannya melanjutkan pendidikan mereka, kuliah di perguruan tinggi negeri
maupun swasta.
“Sekolah musik itu khan sama aja kursus bukan kuliah” ledek teman-temannya.
Indah tidak meladeni omongan mereka. Dia yakin atas pilihannya itu untuk melanjutkan
pendidikan di sekolah musik karena sesuai dengan bakat dan potensi yang dimilikinya,
apalagi ini merupakan cita-citanya sejak kecil, menjadi penyanyi terkenal.
“Kalau kamu melakukan sesuatu setengah-setengah, pasti hasilnya akan sia-sia…” ucap
Arya berpesan.
“Maksud kamu apa, Arya?” tanya Indah tidak mengerti.
“Iya, kalau musik menjadi impian kamu, jadikan musik sebagai pilihan kamu” tegas
Arya.
“Indah, semoga kamu sukses!” ucap Arya memberi semangat.
“Terima kasih….” sahut Indah senang.
Indah tersenyum mengenang kembali masa-masa itu. Sampai pada akhirnya pelajaran
dimulai.
Bandung bagi Indah merupakan tempat yang cocok untuk belajar musik. Lagipula,
banyak musisi-musisi top yang lahir dari kota ini. Hal ini meyakinkannya untuk belajar
lebih giat.
Mengenai tempat tinggal, Indah kost di sana. Rasa sepi menghantui, sehari
bagaikan setahun baginya. Ini pertama kali Indah jauh dengan keluarganya. Biasanya…………………………………….

3. cerpen,Ayah Cintailah Aku
Ayah Cintailah Aku
Poem w

Lampu kamar masih terlihat menyala. Matahari diluar sana sudah lama kembali kepersinggahan sesaat. Hanya ada suara detak jarum jam yang secara runtut menunjukkan perubahan waktu. Liranz masih saja dengan lamunannya. Matanya terlihat sayu penuh harapan. Sesekali senyumnya merekah ketika membayangkan harapannya yang lucu. Harapan-harapan anak berusia 6 tahun yang tentu saja sarat akan kegembiraan dan keceriaan.

“ Kapan ya, ayah mengajakku bermain ke taman kota.”

Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul. Senyumnya yang lalu perlahan memudar. Berganti dengan mimik muka memelas. Sudah berkali-kali pertanyaan itu muncul. Namun sampai sekarang pun dia masih bingung, dengan siapa di harus menanyakan pertanyaan itu. Sedang sehari-hari, dia menjalani hidup seoarang diri di rumah itu. Ibunya sudah lama tak terlihat. Kata ayahnya, ibunya telah tiada sejak Liranz dilahirkan. Entah benar atau tidak, dia pun kmbali bingung, dengan siapa dia harus menanyakan pertanyaan itu. Sedang ayahnya adalah seorang pekerja keras yang sehari-hari bekerja di sebuah percetakan. Bahkan bisa di pastikan bahwa hampir tidak ada waktu libur untuk ayah Liranz selama dia bekerja sebagai tenaga percetakan. Dia selalu berangkat ketika Liranz tengah melayang di dalam mimpi dan pulang ketika Liranz sudah bermain-main di dalam mimpinya. Komunikasi mereka sebagai ayah dan anak pun seakan terputus.

Lama sekali Liranz melamun sambil memeluk boneka beruangnya. Dan diapun perlahan memasuki dunia mimpi dan mulia asyik bermain di dalamnya. Bertemu dengan teman-temannya sambil memainkan mainan yang pasti tidak dapat dia dapatkan ketika dia mulai membuka mata. Yah…itulah dunia Liranz. Hanya dengan bermimpi dia menemukan
…………………………………………..

4. cerpen,Bingkai
Bingkai
Kurnia Efendi

UNDANGAN dari Susan kuterima di kantor menjelang pukul tiga, ketika aku keluar dari ruang rapat. Rencana menyeduh kopi untuk mengusir kantuk segera terlupakan. Perhatianku tersita pada amplop yang didesain sangat bagus.

Saat kubuka sampul plastiknya, telepon di mejaku berdering. Aku mengangkat telepon tanpa menghentikan upayaku mengeluarkan art-carton yang dicetak dengan spot ultra violet pada tulisan “Bingkai”.

“Selamat siang dengan Dudi, Auto Suryatama,” sambutku automatically.
“Ahai, tumben kamu ada di tempat!” Seru suara dari seberang.

“Maaf, siapakah ini?”
“Susan! Kamu lupa suaraku? Padahal baru dua bulan yang lalu kita bertemu. Tak hanya bertemu, karena sepanjang dua malam kita bersama-sama.” Ada nada gemas yang merasuk ke telingaku. “Sorry, aku telepon ke kantor. Hp-mu tidak aktif.”

“Astaga!” Aku tertawa dan meminta maaf. Bukan tidak aktif, lebih tepat: nomornya berbeda. “Aku baru saja menerima sebuah undangan, jadi konsentrasiku bercabang. Tampaknya ini undangan darimu! Jadi rupanya kamu serius dengan rencana itu?”

“Tentu! Kenapa tidak? Kamu pasti ingat cita-citaku sejak SMA. Sudah sejak lama aku bermimpi bisa tinggal di Ubud. Tapi tidak mungkin aku terus-terusan berlibur membuang uang di sana. Jadi kuputuskan untuk mendapatkan kepuasan batin sekaligus finansial…”

“Aku harus bertepuk tangan untuk kegigihanmu. Hebat!”
“Ini juga karena ada bara cinta yang terus-menerus membakar.”
………………………………………………

5. Cerpen,cinta sang bintang
Cerpen “Cinta Sang Bintang”
Diaz
“Jumpa fans!” seru Tamara senang mendengar informasi dari Angela.
“Iya, jumpa fans para pemain sinetron Semanis Senyummu!” ucap Angela meyakinkan.
Jumpa fans akan di adakan pada hari Minggu siang di Lover Plaza – Semarang.
“Wah, kita bakalan ketemu sama Angga dong!” seru Tamara lagi.
“Aku ngefans berat loch sama dia!” tambahnya.
Angga adalah aktor utama di sinetron itu. Tamara dan Angela sangat menyukai sinetron
ini. Mereka tak pernah absen menontonnya.
Hari Minggu di Lover Plaza – Semarang…
Satu jam lamanya para penggemar menunggu dengan setianya. Mereka rela menunggu
hanya untuk melihat bintang idolanya. Begitu pula dengan Tamara sudah menyiapkan
poster yang bergambar Angga, aktor idolanya.
Penantian mereka berakhir ketika sebuah bus meluncur menuju Plaza dan berhenti di
depan Plaza tersebut. Para aktor dan aktris turun dari bus itu dan mendapatkan
pengawalan sangat ketat. Para penggemar lalu menghampiri bintang pujaan mereka.
Mereka berteriak histeris, ingin minta tanda-tangan, mengambil gambar, photo,
membentangkan poster. Sambil tersenyum, Tamara membentangkan poster itu.
“Angga, I love you…” seru Tamara yang pandangannya hanya terfokus pada Angga.
Ucapan itu terngiang-ngiang di telinga Angga. Angga mencari tahu siapakah gerangan
yang berteriak itu. Angela berusaha untuk menarik perhatian Angga dengan melambailambaikan
tangannya. Dari sekian banyak penggemar yang bersorak membentangkan
poster, tatapan Angga hanya tertuju pada satu orang, yang tersenyum manis padanya
seraya membentangkan poster gambar wajahnya. Angga ingin membalasnya dengan
senyuman tapi biasa kebanyakan bintang top itu jaim alias jaga ima
………………………………………………….

6. Cerpen,Cukup Kita Berdua
Cukup Kita Berdua
Misscla

Pertama, kau harus tahu. Di kota ini tak ada lagi yang namanya toleransi, apapun bentuk dan wujudnya. Sejak diberlakukannya peraturan terbaru itu, mata tak lagi sempat melihat kemana perginya becak becak, sepeda ontel yang dikayuh si Abang, juga delman yang biasanya hilir mudik di depan pasar Maestro.

Ya, itu baru sekilas gambaran mengenai kota ini. Kota tempat ku dibesarkan. Belum lama aku menetap disini, setelah lama tak kembali dari negeri kangguru untuk menuntut ilmu. Ahh.. kangen sekali rasanya setiap bertemu para penjual itu menyajikan makanan khas daerah ini.

Aku melirik jam tangan ku. Pukul sebelas siang. Agaknya, kawanku ini sedikit telat dan molor dari perjanjian. Sepuluh menit sudah berlalu. Aku mulai menunggu dengan gelisah. Kalimat kalimat yang tadi telah tersusun rapi di otakku mulai lepas dari ingatan satu per satu. Apa adanya saja lah. Toh tak perlu terlalu formal bukan untuk menyambut kedatangan seorang teman yang lama tak bersua.

Tidak sedetik pun mataku terlepas dari gang bakmie si Akang. Harusnya, temanku sudah muncul dari gang itu dua puluh menit yang lalu. Baru saja akan kuraih ponselku untuk menghubunginya, sebelum sosok itu keluar sambil melambaikan tangan padaku. Entah apa maksudnya, yang jelas aku tahu dia telah berdiri disana.

Pertemuan kami memakan waktu yang tidak terlalu lama. Ia harus pergi ke rumah ibunya, dan minta kuantarkan pula. Sebenarnya, bukankah belum cukup lama pertemuan kita Ri? Tak tahukah kau betapa ku menanti hari ini? Tetapi, aku tak ingin mengawali siang ini dengan kericuhan, maka kuputuskan untuk mengiyakan saja kemauannya
…………………………………………….

7. Cerpen,dibalik senyummu
Cerpen “Dibalik Senyummu”
diaz
“Hei!, kalo jalan jangan meleng dong!” seru Mira sewot karena bahu kanannya
tersenggol.
“Ups, Sorry!” ucap orang yang menyenggolnya. Sambil tersenyum melangkahkan
kakinya pergi menghiraukan Mira.
“Nyengir lagi, bukannya minta maaf…dasar bodoh!” ucap Mira ketus.
Mira baru pertama kali melihat orang itu. Dia terlihat agak tergesa-gesa. Orang itu
menanyakan sesuatu kepada salah seorang guru di depan ruang guru.
“Mungkin dia anak baru” bisiknya dalam hati.
Kegiatan belajar pun dimulai…
“Selamat pagi anak-anak!” sapa Pak Tatang.
“Pagi Pak Tatang!” sahut anak-anak serentak.
“Oh ya, sebelum pelajaran kita mulai, Bapak akan memperkenalkan pada kalian teman
baru pindahan dari Semarang, silahkan Nak….” Pak Tatang mempersilahkan anak itu
memperkenalkan dirinya.
“Selamat pagi teman-teman, nama saya Andre, saya dari Semarang…”
Andre terlihat gugup. Untuk menutupi rasa gugupnya, dia tersenyum. Ternyata
senyuman itu tak luput dari pandangan Mira. Tapi Mira masih terlihat sebel atas
kejadian tadi.
“Itu tadi cowok yang nyenggol gue..” ucapnya pelan.
Setelah Andre memperkenalkan diri, Pak Tatang mempersilahkannya duduk di bangku
depan, mengisi yang masih kosong. Andre duduk sendiri. Saat Pak Tatang menerangkan
pelajaran Matematika, biar tidak terlihat nervous dan bisa beradaptasi, Andre……………………………………………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: